Yayasan Wakaf Haroen Aly Cetak Kader Islami Melalui DQA

Wakafnews.com -- Dayah Darul Quran Aceh (DQA) awalnya berasal dari pengembangan Pesantren Darul Hijrah, yang resmi diwakafkan oleh Yayasan Haroen Aly pada 1 Muharram 1423 H bertepatan 15 Maret 2002. DQA mulai aktif beroperasi 18 Juli 2002 dengan melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Jumlah santri perdana sebanyak 36 orang.
Tahun 2004, Dayah Darul Hijrah dihantam tsunami yang menghancurkan seluruh aset dayah. Seluruh dokumen yayasan dan dayah hancur dan tidak bisa digunakan lagi.
Pascatsunami Aceh, Dayah Darul Hijrah tetap melanjutkan proses belajar mengajar dengan cara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Tahun 2006, Dayah Darul Hijrah resmi menempati lahan baru, wakaf dari pembina yayasan. Sampai 2017 pembelajaran terus berlangsung dengan sistem terpadu SMP dan SMA.
Pada 10 Juli 2017, Dayah Darul Hijrah berganti nama dan fokus pendidikan menjadi DQA yang melaksanakan program tahfizul quran di bawah Yayasan Haroen Aly (YHA) yang namanya diubah menjadi Yayasan Wakaf Haroen Aly (YWHA) pada 25 September 2017, tercatat resmi di Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia.
Ketua Yayasan YWHA Dr M Yassir Yusuf MA menjelaskan, DQA menerapkan kurikulum terpadu antara kurikulum pesantren moderen, salafi dan kurikulum dinas pendidikan setingkat SMP dan SMA dengan sistem asrama. Kurikulum ini diterapkan melalui pola pengasuhan dan pembinaan santri selama enam tahun.
“Tujuannya mendidik, membina dan mempersiapkan kader umat dengan landasan iman dan beramal ilmiah yang bermanfaat bagi agama, masyarakat dan sekaligus menjadi penggerak pembangunan bangsa,” ujarnya.
DQA memiliki visi menjadi lembaga pendidikan Islam yang profesional dan berkualitas, yang mampu melahirkan banyak penghafal Alquran yang memiliki akhlak, karakter islami, dan berkompetensi di bidang akademik.
Sementara misinya adalah melaksanakan pembelajaran dan pembinaan secara efektif baik di bidang tahfidz, kepesantrenan maupun pendidikan nasional (diknas). Kemudian pengembangan kurikulum yang terintegrasi dan berinovasi, guna melahirkan peserta didik yang berprestasi di dalam dan luar negeri.
Dia menambahkan, DQA berupaya mewujudkan lembaga pendidikan Islam yang berkualitas di bidang tahfidz Alquran dan bidang akademik yang menjadi sekolah idaman bagi masyarakat. Selanjutnya, mencetak generasi hafizd Alquran yang berakhlak mulia, dan berpengetahuan luas.
Terakhir, melaksanakan pengembangan SDM pendidikan, tenaga kependidikan dan komponen sekolah, agar berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki.
DQA pada tahun ajaran 2020/2021 sudah mempunyai 438 santri (putra dan putri), dengan jenjang pendidikan SMP (putra dan putri) dan SMA (putra). Semua proses pendikan belajar mengajar dilakukan di atas tanah wakaf dan rumah yang diwakafkan.
Dia menjelaskan, program unggulannya yakni hafal Alquran 30 juz, peningkatan akhlak santri dan berwawasan luas, mampu berbahasa Arab dan Inggris, dan mempunyai daya saing akademik.
Kegiatan mingguan di DQA meliputi olahraga, latihan pidato tiga bahasa yakni Arab, Inggris, dan Indonesia, pramuka, tapak suci, dan kaligrafi.
YWHA berkomitmen menyediakan akses dan dana pendidikan seluas-luasnya untuk kaum dhuafa dalam bentuk beasiswa, baik sekolah di DQA maupun di sekolah lainnya guna melahirkan generasi cerdas dan bermutu.
Pada tahun ajaran 2022-2023, YWHA telah memberikan beasiswa kepada anak yatim, anak dai dan siswa kurang mampu, sebanyak Rp 426.614.000.
YWHA juga berupaya memberdayakan ekonomi pesantren, guru dan masyarakat bebasis potensi pesantren untuk mendorong kemandirian pesantren dan masyarakat di sekitar DQA khususnya dan masyarakat Aceh pada umumnya.
“Yayasan wakaf ini akan berperan aktif dalam melayani kaum dhuafa dan santri baik bersifat preventif, promotif dan kuratif. Untuk akses layanan kesehatan bagi duafa diberikan dalam bentuk tidak berbayar,” tutup Yasir.
Sementara itu, Pimpinan DQA Ustaz Hajarul Akbar Alhafizh MA menjelaskan, DQA merupakan rumah atau tempat generasi remaja Islam menelaah dan mewujudkan cintanya kepada Alquran dengan semua sisinya. Hal itu dimulai dari tahsin atau tajwidnya, bacaan, halafan, pemahaman, serta pengamalan terhadap nilai-nilai Alquran itu sendiri.
“DQA hadir untuk memberikan solusi terbaik kepada para orang tua dan juga putra dan putri Aceh untuk mempelajari Alquran secara menyeluruh,” terangnya.
Dia menambahkan, sebagian orang menghafal Alquran, tapi pemahamannya kurang, atau kurang aplikatif. “Dalam hal ini DQA mencoba meramu semua sisi-sisi ini, mulai dari bacaan, pemahaman, hafalan dan pengamalan Alquran dengan lebih dulu memahami ilmu-ilmu alat atau dasar-dasar nahwu dan saraf,” tutupnya.
Penulis: Zulfurqan
Editor: Smh
0 Response
Posting Komentar